Mabrurkah Haji Kita?

PDFPrintE-mail

Beberapa hari yang lalu rangkaian pelaksanaan haji usai sudah. Mulai dari Wukuf di Arafah, melontar jumrah di Mina, Mabit di Muzdalifah, Thawaf Ifadhah mengelilingi Ka’bah, Sa’i hilir mudik dari Shafa ke Marwah, hingga Tahallul. Sebagian jemaah haji asal Indonesia kloter-kloter awal mulai bersiap bertolak meninggalkan Tanah Suci menuju Tanah Air. Haji dan Hajjah pun segera bisa berkumpul bersama keluarga dan handai taulan. Namun, satu pertanyaan besar muncul: mabrurkah haji kita?

Berhaji merupakan salah satu ibadah yang termuat dalam rukun Islam. Ada ulama yang menyebut bahwa ketika seorang muslim sudah berhaji maka sempurnalah Islamnya. Atas dasar pemikiran tersebut, kaum muslimin di seluruh dunia berlomba untuk menunaikan ibadah ini. Mereka menyiapkan bekal fisik, mental, dan spiritual demi kesempurnaan haji.

Di antara bekal-bekal yang dipersiapkan oleh seorang muslim ketika hendak berhaji, ada satu syarat penting yang tidak bisa dilewatkan, yaitu niat. Seluruh ibadah yang kita kerjakan haruslah bersandar kepada niat. Mari kita refleksikan ke belakang, sudah luruskah niat kita dalam menunaikan ibadah haji ini? Apakah niat kita berhaji semata-mata untuk beribadah dan menggapai ridha Allah SWT, atau ada niat lain? Seperti wisata, bisnis, riya, atau sum’ah?

Mari kita simak hadis Rasulullah SAW:

وَ الحَجُّ المَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

“Haji yang mabrur tidak lain pahalanya adalah surga.” (HR. Bukhari-Muslim)

Berdasarkan hadis di atas, bagaimana kita mengetahui bahwa haji yang kita laksanakan mabrur? Para ulama menyebutkan tanda-tanda haji mabrur sebagai berikut:

  1. Harta yang dipakai untuk berhaji adalah harta yang halal
  2. Amalan-amalannya dilakukan dengan ikhlas dan baik, sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW
  3. Hajinya dipenuhi dengan banyak amalan baik
  4. Tidak berbuat maksiat selama ihram
  5. Setelah haji menjadi pribadi yang lebih baik.

Ibadah haji adalah madrasah. Selama kurang lebih satu bulan jemaah haji disibukkan dengan berbagai kegiatan ibadah dan dijauhkan dari hiruk pikuk urusan duniawi. Kaum muslimin yang pulang berhaji sepatutnya berubah menjadi pribadi yang lebih baik, memiliki hati yang lebih lembut dan bersih, ilmu dan amal yang lebih mantap, kemudian konsisten dalam kebaikan.

Bagaimanapun, yang menilai mabrur tidaknya ibadah haji seorang muslim hanyalah Allah SWT. Kita sebagai hamba-hamba Allah SWT hanya bisa berusaha sebaik mungkin dalam beribadah untuk menggapai ridha-Nya. Semoga kita semua yang mendapat kesempatan berhaji tahun ini mendapat predikat mabrur dari Allah SWT. Wallahu a’lam. (Izmir)

 

 

Most Read Articles

esis emir