Sukses Dunia dan Akhirat

PDFPrintE-mail

Sesungguhnya Allah SWT tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 11)

Firman Allah SWT di atas menunjukkan bahwa Allah SWT menganjurkan para hamba-Nya untuk berubah menjadi lebih baik dalam segala hal. Allah SWT telah memberikan banyak nikmat yang tak terhitung jumlahnya. Slah satunya adalah akal. Nikmat Allah SWT yang satu ini sering diabaikan begitu saja. Seringkali manusia meremehkan kekuatan otak mereka sendiri dan cenderung menganggap hebat kekuatan otak orang lain. Hal inilah yang bisa membuat manusia menjadi rendah diri dan mereka pun cenderung kalah sebelum berperang.

Sebenarnya bukanlah berapa tinggi IQ yang kita miliki, tetapi bagaimana kita bisa menggunakan dan memaksimalkan segala apa yang kita punya?.  Jangan pernah meremehkan inteligensi Anda menganggap terlalu tinggi intelegensi orang lain. Berkonsentrasilah pada apa yang Anda miliki. Temukan bakat unggulan Anda dan kelola potensi otak yang Anda punya. Kesuksesan pun semakin mendekati Anda.

Namun, kita harus mengingat sejatinya kita harus hidup seimbang antara dunia dan akhirat. Kita harus selalu ingat bahwa semua kehidupan dunia ini pasti ada muaranya.  Jadi, kita tidak boleh terlalu mencintai hal-hal duniawi yang pada hakikatnya fana. Lalu apa sebenarnya hakikat hidup itu?

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat [51]:  56)

Firman Allah SWT tersebut meniscayakan agar manusia mengabdi dan beribadah, bukan sekadar melakukan ritual semata. Menyembah Allah SWT berarti tunduk, takut, syukur, taat, dan cinta kepada-Nya. Dengan berbibadah, kita kan semakin dekat dengan Allah SWT sehingga kita tidak menduakannya dengan hal-hal duniawi.

Agar kita bisa menyeimbangkan antara dunia dan akhirat, maka kita harus membagi waktu dengan baik dan benar. Orang yang berakal tidak memprioritaskan hal lain, kecuali pada tiga hal berikut:

  1. Bekal untuk kehidupan di akhirat.
  2. Bekal untuk kehidupan di dunia.
  3. Bersuka ria dalam hal yang tidak diharamkan.

Umat Islam memiliki potensi untuk sukses karena agama Islam mendidik umatnya untuk tidak menunda-nunda pekerjaan.  Seperti pada firman Allah SWT berikut:

Demi waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan menetapi kesabaran.” (QS. Al-Ashr [103]: 1-3)

Untuk meraih kesuksesan, dibutuhkan motivasi tinggi agar mampu melahirkan dorongan yang timbul dari dalam diri sendiri untuk melakukan sesuatu. Motivasi memiliki peranan yang sangat vital dalam kehidupan karena merupakan penggerak awal dari setiap aktivitas seseorang dalam hidupnya. An-Nabhany menyebutkan bahwa ada tiga hal yang menjadi pendorong manusia melakukan suatu aktivitas, yaitu:

  1. Dorongan Materi (Al-Quwwah Al-Madiyyah)

Dorongan ini memotivasi manusia dengan janji-janji yang bersifat materi. Seringya, dorongan ini membuat orang mudah drop apabila apa yang diinginkan tidak tercapai. Dengan kata lain, motivasi seperti ini tidak bisa dijadikan landasan untuk membangun perbuatan yang sahih dan mantap dalam diri seseorang.

  1. Dorongan Emosi (Al-Quwwah Al-Ma’nawiyyah)

Motivasi ini bersumber dari dorongan emosi dan perasaan. Di mana ada alasan emosional yang cukup kuat dan menyentuh perasaan seseorang untuk berubah dan bertindak.

  1. Dorongan Spiritual ( Al-Quwwah Ar-Ruhiyyah)

Motivasi ini datang dari keyakinan dan nilai-nilai yang dianut seseorang. Motivasi ini dibangun berdasarkan prinsip perintah dan larangan Allah SWT. Motivasi ini juga merupakan motivasi yang paling kuat dan lebih bertahan lama serta bersifat jangka panjang.

Dengan demikian peliharalah motivasi dalam mencapai sesuatu khususnya motivasi spiritual yang lahir dari kesadaran diri sendiri karena dirinya mempunyai hubungan dengan Sang Pencipta. Fokuslah pada talenta alami Anda. Pergunakan kemampuan yang Anda miliki dengan maksimal. Karena sukses itu tanpa batas.

Most Read Articles

esis emir