Cita-Cita Hidup yang Sudah Usang (Bagian Pertama - Pendidikan)

PDFPrintE-mail

Waktu Anda kecil, orang tua Anda pasti pernah bertanya, "Nak, kalau sudah besar mau jadi apa?" Entah diajari atau sudah menjadi kebiasaan turun-temurun, jawaban Anda kemungkinan besar adalah ingin menjadi dokter, pilot, insinyur, atau bahkan presiden. Tidak ada yang salah dengan jawaban Anda tersebut, bahkan lebih baik daripada jawaban klasik: "menjadi orang yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama" yang lebih mengambangkan cita-cita pada nasib dan mengaburkan fokus. Namun, pernahkah Anda berpikir jika jutaan orang Indonesia memiliki cita-cita sebagai dokter atau insinyur, apa yang akan terjadi?

Pada masa lalu, kebutuhan akan dokter dan insinyur (sarjana teknik) sangat tinggi. Selain masih sangat jarang, status dokter dan insinyur cukup bergengsi karena untuk memperolehnya cukup sulit (butuh kepandaian di atas rata-rata dan modal finansial yang cukup). Wajar jika orang tua mengharapkan anaknya menyandang status tersebut. Kini, di zaman di mana akses pendidikan dan pekerjaan telah terbuka lebar, harusnya cita-cita itu sudah bergeser. Namun ternyata cita-cita lama itu belum pudar yang membuat banyak persoalan hidup di masa kini tidak terpecahkan. Masih jarang orang tua yang berharap anaknya jadi pengusaha hebat, pendidik yang dikagumi, olahragawan yang tangguh yang kesemuanya itu berhubungan erat dengan penghasilan yang besar jika sungguh-sungguh ditekuni.

Bukti yang sangat jelas akibat cita-cita tersebut adalah masih jarangnya siswa yang mau masuk pendidikan vokasional (kejuruan) atas keinginan sendiri. Dari SD, masuk SMP. Dari SMP, masuk SMA. Dari SMA, masuk perguruan tinggi. Itulah jalan menuju cita-cita. Sulit ditemui siswa dari SMP mau masuk SMK. Dari SMK mau berwirausaha sendiri hingga sukses. Bagi sebagian besar orang tua, SMK masih dianggap sebagai tempat terakhir anaknya melabuhkan harapan apabila faktor kepandaian si anak dan finansial orang tua tidak mendukung untuk sekolah di SMA. Sungguh salah besar.

Setelah anak masuk SMA. Orang tua ingin anaknya masuk jurusan IPA, karena menurut mereka, kalau sudah masuk IPA nanti mudah jika ingin memilih jurusan di perguruan tinggi. Tidak jarang orang tua yang menganggap jurusan lain selain IPA/eksakta adalah jurusan madesu (masa depan suram) karena kalau sudah lulus nanti susah mencari kerja. Fakta ini diperparah dengan gagalnya pemerintah menyediakan lapangan kerja yang luas bagi lulusan non-eksakta. Semakin homogenlah cita-cita bagi banyak orang.

Bayangkan, sudah harus masuk SMA, masih harus ditambah dengan masuk IPA. Padahal setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda dan keterbatasan. Tidaklah mengherankan jika banyak generasi muda sekarang bersikap pragmatis, lebih mementingkan status daripada kompetensi. Yang penting SMA, yang penting kuliah, yang pentingĀ  punya gelar. Asal cepat lulus, asal nilai tinggi, tanpa ada kemampuan yang dihasilkan oleh proses belajar. Sekolah semakin banyak, namun hanya menghasilkan kuantitas lulusan yang besar, bukan kualitas (bersambung - RPH).

Most Read Articles

Acara Akan Datang


esis emir