Cita-Cita Hidup yang Sudah Usang (Bagian Kedua - Pekerjaan)

PDFPrintE-mail

Pada tulisan yang lalu, saya sudah memaparkan dengan jelas apa saja cita-cita pendidikan kita yang sudah usang namun masih dipakai hingga sekarang. Tulisan saya kali ini menyoroti cita-cita orang pada saat mengambil pekerjaan yang juga usang, namun lagi-lagi masih dipakai. Sungguh mengenaskan.

Setelah lulus sekolah/perguruan tinggi, pasti pertanyaan hidup selanjutnya adalah: Anda akan bekerja? Bekerja di mana? Gajinya berapa? Semua orang bercita-cita akan bekerja. Bekerja di mana adalah persoalan berikutnya, yang terkait dengan besarnya gaji. Di sinilah kekeruhan itu terjadi lagi. Orang ramai-ramai mencari lapangan kerja, bukan menciptakan lapangan kerja. Orang sibuk meributkan gaji yang diterima, senang menjadi orang gajian, tanpa mau berpikir kapan saya akan menggaji orang.

Bagi orang-orang yang tinggal di luar kota besar, pilihan bekerja menjadi pegawai negeri sipil adalah cita-cita hidup. Bayangkan, menjadi PNS: tanpa tekanan, idle time yang begitu besar hingga bisa kerja sambilan, hampir pasti tidak akan dipecat, gatsun (gaji-tunjangan-pensiun) menanti. Siapa yang tidak mau? Apalagi kini pemerintah sedang concern membangun kesejahteraan BUMN-PNS, semakin kuatlah cita-cita itu. Ada lagi yang lebih parah. Pada waktu saya SMA, orang tua saya menganjurkan: bekerjalah di area basah! Maksudnya adalah bekerja di area yang penuh perputaran uang: departemen keuangan, pajak, anggaran, pekerjaan umum, bea cukai, dan sebagainya. Kalau negara ini mau jujur, sebenarnya tidak ada area pekerjaan basah. Yang ada itu area korupsi. Area basah hanya untuk orang cerdas, kreatif, inovatif. Akibat cita-cita lama ini sudah bisa ditebak: orang menghalalkan segala cara untuk jadi PNS, terjadi ketimpangan antara posisi kerja dan tenaga kerja yang menempatinya, dan tergusurnya orang-orang hebat karena ia tidak punya jaringan koneksi dan uang yang cukup.

Cita-cita berikutnya untuk bidang pekerjaan adalah: BEKERJA DI JAKARTA. Sepertinya di daerah-daerah ada anggapan: belum bekerja di Jakarta belum sah. Di Jakarta lapangan pekerjaan luas, gajinya besar, mengapa kita bekerja di daerah sendiri? Cita-cita dan anggapan ini memicu terjadinya urbanisasi besar-besaran di Jakarta sehingga terjadi berbagai masalah besar: ledakan penduduk, kemacetan, perumahan, sampah. Jumlah tenaga kerja yang sangat besar dan menjamurnya gedung-gedung bertingkat pencakar langit sebagai tempat menampung para pekerja juga berdampak besar terhadap masalah lingkungan hidup seperti langkanya air bersih, rusaknya tanah, erosi air laut, dan musnahnya pohon sebagai paru-paru kota. Tidaklah mengherankan jika kini kebudayaan asli Jakarta semakin terkikis, jalinan komunikasi antarwarga semakin rusak karena tidak saling mengenal satu sama lain (hidup nafsi-nafsi).

Kita tentunya berharap cita-cita hidup ini tidak terus diagung-agungkan. Orang-orang di daerah memiliki kesadaran untuk membangun tanah kelahirannya sendiri berdasarkan ilmu yang dimilikinya. Pemerintah daerah seharusnya dapat memanfaatkan potensi dan pendapatan asli daerah untuk kepentingan daerahnya, tidak untuk kepentingan pemerintah pusat sehingga tidak lagi terjadi kesenjangan pembangunan dan lapangan kerja di daerah. (bersambung - RPH)

Most Read Articles

Acara Akan Datang


esis emir