Eksistensi Pesantren di Indonesia


Sumbangsih pesantren Bangsa Indonesia tidak saja menonjol dari kegiatan pendidikan dan strategi kebudayaan yang dilakukannnya tetapi juga menyangkut kiprah social dan politik bagi perkembangan dan kemajuan bangsa indonesia.

Sebanyak 55 Pondok Pesantren(ponpes) yang diulas dalam buku ini terpilih karena dianggap berpengaruh di Indonesia, di mana hal ini dapat dilihat dari jumlah santrinya yang besar mupun kiprah para lulusannya yang aktif menjadi pengerek terdepan perubahan social dan keagamaan ditengah-tengah masyarakat Indonesia.

Di Banten, ada Ponpes Daar El-Qolam, Tangerang, Ponpes Cidahu, Pandeglang, Ponpes An-Nawawi, Tamara, Srang dan Ponpes Tahfidz Daarul Quran, Cipondoh, Tangerang. Ponpes Daar El- Qolam didirikan oleh Drs. K. H Ahmad Rifa’I padan 20 Januari 1968. Ponpes mulai menampakkan [erkembangan di tahun 1983. Para santri umumnya menempuh jenjang pendidikan selama enam tahun. Ponpes telah berkembang pesat menaungi 4 institusi pendidikan, yakni Daar El –Qolam 1,2,3 dan 4

Tiga Ponpes di Jakarta yakni, Ponpes Darunnajah, Ulujami, Ponpes Daarul Rahman, Jagakarsa, dan Ponpes Assidqiyyah, Kebon Jeruk. Ponpes Darunnajah didirikan oleh K.H Abdul Manaf Mukhayyar dan dua rekannya pada tangal 1 April 1974. Cikal Bakal Ponpes ini bermula dari bersirinya Madrasah Al-Islamiyah di Patanduhan, Palmerah (1942).

Sisitem Pensisikan dan pengajaran yang diterapkan adalah menggabungkan antara system pondok pesantren dengan pendidikan nasional. Saat ini pondok pesantren  memiliki 17 cabang, meliputi 57 satuan pendidikan yang tersebar di Sumatera, Tangerang, Bogor, dan Jakarta. Santrinya kini berjumlah sekitar 9.230 santri.

Di Sulawesi, Ponpes As’adiyah, Sengkang. Ponpes ini didirikan oleh Anre Gurutta K.H Muhammad As’ad pada tahun 1930. Diberi Gelar oleh masyarakat Bugis ‘Anre Gurutta Puang Aji Sade’. Cikal bakal berdiri dimulai sejak 1930 dengan dirintisnya pengajian halaqah dan didirikan nya A;-Madrasah Al-Arabiyyah Al-Islamiyyah (MAI). Metode pembelajaran menggunakan metode mangan tudang (Halaqah).

MAI punya coak tersendiri, santri hanya diajari bidang studi agama saja dan para santri hanya terdiri dari santri laki-laki. Kurikulum yang dipakai adalah gabungan dari sistem Madrasah Al-Falah di Kota Makkah, system Universitas Al-Azhar di Mesr, dan system kurikulum Madrasah di Madinah. Tidak mengherankan jika dalam waktu singkat MAI mampu mencetak para ulama, tokoh islam, dan kader-kader mubalig.

14 ponpes di Jawa Barat dikupas dalam buku ini. Diantaranya, Ponpes Babakan, Ciwaringin, Cirebon. Ponpes Buntet, Cirebon, Ponpes Sukamiskin, Bandung, Ponpes Al-Masthuriyah, Sukabumi, Ponpes Suryalaya, Tasikmalaya. Dll.

Ponpes Babakan ciwaringin, didirikan Kiai Hasanuddin ‘Kiai Jatira’ sekitar tahun 1715. Ponpes yang dahulu dikenal dengan nama ‘Pondok Gede’ menaungi sekiar 34 pesantren didalamnya.

Pada Tahun 1718 dan 1751, Padepokan Kiai Jatira dihancurkan dan dibakar habis oleh Kolonial Belanda . Pada masa kepengasuhanK.H Amin Sepuh, menantu sekaligus keponakan Kiai Jatira. Pondok Gede Babakan mencapai masa keemasan dan banyak andil dalam mencetak tokoh-tokoh agama yang andal.

Ponpes Sidogiri, Pasuruan, salah satu pesantren dari 18 ponpes dalam buku ini yang berada di Jawa Timur. Ponpes Sidogiri didirikan Sayyid Sulaiman pada tahun 1158H/1875M. Ponpes memiliki sejarah panjang dalam kepengasuhannya. Selama 193 tahun, ponpes ini menjalani system pendidik tradisional yakni pengajian bandongan dan sorongan. Kemudian menerapkan system pengajian Ma’hadiyah dan system pendidikan madrasiyah yang bernama Madrasah Miftahul Ulum (MMU).

Saat ini,MMU memiliki empat jenjang pendidikan; I’dadiyah, Istidafiyah, Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah. Hal yang berbeda dari pesantren pada umumnya. Ponpes ini mengembangkan bisnis koperasi syariah.

Santri juga dilatih untuk berwirausaha. Selanjutnya ada 8 Ponpes di Jawa Tengah, 3 Ponpes di Kalimantan. 1 Ponpes di NTB dan 3 Ponpes di Sumatera.


Judul : Dari Pesantren ke Pesantren: Kiprah 55 Pesantren Berpengaruh di Indonesia

Penulis : Hadiyatullah, S.Pd.I, M.M.

Penerbit : Emir Cakrawala Islam

Terbit : 2018

Tebal : XVI + 528 Halaman

Resensi Harian Fajar Makassar

Minggu, 18 November 2018


Most Read Articles

esis emir