Semua Memalukan Jika Diingat Kembali

PDFPrintE-mail

Aku mahasiswa baru tahun 2015 di UIN Jakarta fakultas Psikologi. Senang ketika pertama kali mendengar kata siswa yang selama 12 tahun berlalu kini berubah menjadi mahasiswa. Saat itu, aku belum tau apa-apa tentang perkuliahan. Masih suka mencari-cari informasi dan bertanya-tanya soal perkuliahan kepada senior. Bagiku sebagai mahasiswa memang harus aktif mencari informasi penting terutama soal KRS yang masih suka berubah-ubah setiap hari.

Ada beberapa pengalaman tak terlupakan saat baru menginjak kampus. Pertama, ketika OPAK mahasiswa baru diwajibkan memakai sepatu pantofel dan rok hitam model lurus A. Sejatinya aku adalah gadis tomboy. Menggunakan sepatu pantofel model high heels bisa dibilang tidak pernah sama sekali. Aku tidak pernah bisa berjalan dengan benar menggunakan sepatu yang kukenakan. Rok yang kukenakan juga terlalu panjang dan membuatku sering tersandung bahkan terjatuh berulang kali selama OPAK dan menjadi bahan tertawaan para senior.

Kedua, di hari terakhir OPAK seluruh kelompok mempersembahkan lagu mars Psikologi dan yel-yel mereka. Aku memiliki suara yang berbeda dari yang lain. Meski badanku tinggi tapi suaraku manja seperti anak kecil. Kunyanyikan lagu mars Psikologi dengan suara tersebut. Aku bahagia karena semua yang ada di dalam teater tertawa. Aku senang membuat orang-orang tertawa. Tapi sekali lagi, aku menjadi bahan candaan senior yang selalu memintaku bernyanyi dengan suara yang kupersembahkan saat OPAK dulu.

Terakhir, ini terjadi empat hari setelah OPAK. Aku masih kekanak-kanakan. Aku masih heboh dalam bernyanyi dan menari kegirangan. Ketika itu, aku berada di kelas kosong sendirian. Tak ada seorang pun yang menemaniku di kelas itu, tepatnya ruang 307 lantai tiga. Karena merasa takut akan situasi yang sepi, aku menari dan bernyanyi layaknya artis panggung. Berputar-putar, bergoyang-goyang, bernyanyi dengan suara anak kecil lagi. Aku ingat sedang menyanyikan lagu Rossa berjudul pujaan hati. Tiba-tiba kesenangkan itu pecah ketika seorang senior, laki-laki yang tak kukenal memergokiku sedang menari dan bernyanyi sendirian di ruang kosong itu. Senior itu lantas meminta maaf karena sudah mengganggu kemudian pergi sambil tertawa. “Maluuuuu…Maluuuuu…” teriakku saat itu. Aku berharap senior itu tidak ingat wajahku. Tapi sepertinya wajah ini terekam jelas olehnya. Hingga saat ini, dia selalu menahan tawa ketika bertemu denganku di kampus.

Masa-masa awal perkuliahanku berakhir dengan pengalaman-pengalaman yang memalukan. Bahkan, aku mengetik cerita ini sambil tersenyum geli mengingat kejadian-kejadian tersebut.Tapi tanpa kusadari semua itu membuatku terkenal di kalangan senior sebagai seorang yang energic dan unik. Dan aku mensyukuri semua yang terjadi padaku meski semuanya sangat memalukan jika diingat kembali.

Oleh: Dea Lupita Putri

Most Read Articles

Kontak Kami

PT. PENERBIT ERLANGGA

Jl. H. Baping Raya No. 100
Ciracas, Jakarta Timur 13740
Telp. (021) 871 7006
Fax. (021) 877 946 09
Whatsapp. 08191-1500-885
Hotline. 1500-885


esis emir