Menjadi Lebih Baik dengan Pendidikan Asrama

PDFPrintE-mail

Saat-saat memasuki bangku kuliah adalah saat-saat dimana kita memasuki era baru dalam hidup. Harus banyak perubahan yang terjadi terutama berkaitan dengan kedewasaan. Selain itu, lingkungan sosial yang baru juga menuntut kita untuk beradaptasi dan menerima hal-hal baru. Aku sendiri adalah tipe orang yang tidak terlalu mudah untuk beradaptasi. Jika saja orang-orang di sekitar tidak terlebih dahulu mengakrabkan diri denganku, maka aku benar-benar akan menghadapi fase yang sulit.

Terlebih jika berhadapan dengan sistem universitas yang mengharuskan setiap mahasiswa baru menempati asrama. Satu ruangan atau kamar yang berukuran kira-kira 3 x 4 m harus ditempati oleh 4 orang. Kamar bagiku termasuk fasilitas pribadi dimana aku selalu menginginkan menikmati fasilitas pribadi sendiri. Terbayang bukan betapa sulitnya mengalami saat-saat seperti itu?

Setiap kepala memiliki pemikiran dan keinginan yang berbeda. Ada empat kepala berarti ada empat pemikiran juga ego. Sangat sulit jika masing-masing orang tidak bisa berlapang dada menerima pendapat orang lain, terutama berkaitan dengan sifat. Saat itu ada satu orang yang memang sifatnya berbeda. Aku dan kedua temanku yang lain tidak terlalu suka dengan perangainya. Terlalu sensitif dan mudah terbawa emosi. Terkadang kami bertiga hanya bisa menggelengkan kepala menghadapinya.

Sampai suatu hari, aku mendatangi salah seorang pembimbing asrama. Aku mengutarakan keluhanku dan berharap supaya bisa dipindahkan ke kamar yang lain. Saat itu aku sangat kecewa dengan jawaban sang pembimbing yang mengatakan ‘Tidak bisa’, tetapi aku mulai menerima ketika mendengar alasannya yang tidak lain adalah supaya aku bisa mengambil pelajaran dari semua yang terjadi.

Sejak saat itu, aku belajar untuk memahami sifat temanku yang satu itu dan terkadang menasehatinya walaupun yang diterima bukanlah hal yang bisa dikatakan baik. Aku juga belajar untuk selalu mengalah agar tidak terjadi pertengkaran. Selain itu, aku juga membiasakan diri untuk meminta maaf terlebih dahulu karena aku percaya meminta maaf bukanlah suatu sikap yang menunjukkan kalau kita kalah. Aku juga belajar bahwa perbedaan bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan, tetapi sesuatu yang harus kita terima keberadaanya.

Satu tahun berada satu ruangan dengan seseorang yang kurang cocok denganku membuat perjalanan terasa panjang, namun perjalanan panjang itu telah memberikan banyak pelajaran. Kini, hubungan baik tetap berjalan meski kami tidak lagi tinggal dalam satu asrama. Jauh di dalam lubuk hatiku, aku juga berterima kasih kepadanya karena secara tidak langsung dia sudah memberikan banyak pelajaran sehingga aku bisa menghadapi berbagai masalah dalam beradaptasi yang lebih besar lagi di luar sana.


Oleh : Revi Rosdiana

Most Read Articles

esis emir