Kisah Tentang Pemaknaan Hidup

Maman telah pasrah. Dia siap jika malam itu adalah kesempatan terakhirnya hidup di dunia. Namun Allah berkehendak lain. Dia masih memberikan umur pada Maman. Di Bandung ini, Maman berjibaku mencari pekerjaan.

 Tidak bertahan lama bekerja pada sebuah percetakan kecil, lantaran tidak mengerti dengan banyak rekan kerja yang menganggap enteng salat. "Shalat itu adalah buat orang-orang tua dan buat orang-orang kaya" kata rekan kerjanya itu. Berpindah tempat kerja, tidak lama pula Maman di sebuah penerbitan kecil. Majalah yang belum berumur satu tahun itu lantas tutup. Padahal kerja di sana sangat pas dengan kemampuan Maman. Begitu juga dengan mengajar baca Al Qur'an pada sebuah keluarga kaya. Secara halus memutuskan perjanjian lantaran tahun penyakit yang diderita Maman.

Justru hikmah besar didapatnya dari seorang penjual nasi sayur. "Pasrah memang jalan yang terbaik, Maman. Banyak sekali keajaiban bila orang benar-benar pasrah pada Allah. Setelah berusaha keras tentunya!" (hlm 18). Dari suntikan semangat itulah, terlecut semangat Maman untuk meneruskan hidup. Dia tidak lagi menyerah. Terus berusaha sekaligus pasrah dengan apa yang akan terjadi.

Begitulah. Hikmah tentang kehidupan bisa datang dari mana saja. Kita harus menerima dan memahami takdir hidup  yang datang pada kita.

Buku kumpulan cerpen ini memberikan penyadaran pada kita bahwa setiap takdir yang kita alami pasti memberikan hikmah pada kita untuk terus menatap hidup ke depan. Kumpulan cerpen dengan latar dari berbagai tempat di Indonesia juga dari negara lain seperti Mesir dan Belanda.

Seperti Rindu Tanah Jeruk: Palestina yang mengetengahkan kisah cinta antara Bram atau Pramono dengan Hala, gadis Palestina. Meskipun saling jatuh hati, keduanya tidak bisa bersatu lantaran masing-masing mengutamakan berbakti pada negerinya. Bram harus kembali ke Indonesia, setelah selesai menuntut ilmu. Begitu juga Hala yang harus memperjuangkan kemerdekaan bangsanya, bangsa Palestina.  "Cita-cita tidak boleh dikalahkan dengan cinta Hala, aku mengerti."(hlm 109). Lantas keduanya terpisah. Sesuai tekad masing-masing. Namun, justru Bram yang goyah. Sering dia mencari-cari sosok Hala di pelosok Mesir itu. Di banyak tempat keramaian seperti ada sosok Hala yang selalu hilang saat dicarinya. Sampai kemudian sebuah headline surat kabar menghentikan pencarian pada sosok yang dicintainya.

Ammar tidak habis pikir. Azizah yang begitu didambanya untuk menjadi pendamping hidupnya tiba-tiba mengelak dan secara halus menolaknya. Namun dirinya menolak hidupnya hancur karena masalah perempuan. Tidak boleh. Cukup dalam hitungan jam saja. Malam itu dia tahajud

Setelah itu segala bebannya terlepas. Tidak lagi terbebani dengan diputuskan secara sepihak. Tidak pula dia mendendam atau sakit hati. Jika memang Azizah itu baik untuk agamaku, hidup dan matiku hendaknya Ia mendekatkan Azizah denganku. Jika ternyata sebaliknya, berarti Azizah bukan jodohku, begitu kata Ammar ringan.

Ammar terbebas dari kecengengan remaja tentang cinta yang sentimental, picisan, dan gombal. Sebab rahmat Allah itu luas. Bodoh sekali frustasi jika gara-gara cinta. Medan untuk meraih prestasi masih terbentang luas. Sejak saat itu Ammar membulatkan tekadnya memperjuangkan Islam. Dia merasa wajib menjadi pionir dalam membela agama ini. Islam yang berwajah ramah, toleran, dan berkeadaban, bukan Islam yang berwajah bengis dan penuh kebencian (hlm 25).

Hingga akhirnya kebenaran terkuak. Ada salah paham yang terjadi dalam hubungannya dengan Azizah. Kedatangan Azizah dan kakaknya memperjelas semuanya. Di hari itu pula mereka menentukan tanggal pernikahannya.

Lewat Tak Berumah, penulis memberikan kritik sosial tentang kehidupan keberagamaan kita. Dikisahkan seorang anak bernama Bandi, tak mampu sekolah. Kemiskinan yang mencekik keluarga hingga membuat ayahnya tidak mampu membiayai pendidikan yang semakin mahal. Tidak ada yang peduli dengan kondisi keluarga mereka. Padahal para tetangga orang yang mampu. Namun mereka lebih memilih haji beberapa kali karena itu merupakan ibadah, ketimbang membantu biaya pendidikan anak yang dianggapnya bukan merupakan ibadah. Juga lebih baik menyumbang pembangunan masjid yang sudah banyak juga berdiri, ketimbang peduli pada kehidupan tetangganya. "Di negeri ini, kebanyakan orang miskin justru dihina dan dipinggirkan daripada ditolong dan dientaskan dari kemiskinan" (hlm 98).

Di sebuah emperan restoran Malioboro, Bandi yang termenung menarik perhatian penjaga restoran. Niat hati sang penjaga memberikan makan, ditolak. Memberikan uang sebagai bekal Bandi, juga ditolak. Bandi telah banyak belajar dari tetangganya, jika mereka memberikan sesuatu, tidak lain sesudah itu mereka menghina dan mencaci keluarganya. Itulah alasan Bandi menolak pemberian penjaga. Sampai kemudian dua orang turis yang seketika memberikan uang kepadanya tidak mampu Bandi tolak lantaran tidak bisa bahasa Inggris.

Judul              : Rindu Tanah Jeruk: Palestina

Penulis                        : M. Thoha Anwar

Penerbit          : Penerbit Emir (Erlangga)

Cetakan          : 2019

Halaman         : 125 halaman

Kode Buku     : 0082070190

ISBN               : 978-602-703-194-4

Peresensi        : Supadilah (Pegiat literasi di SMAT Al Qudwah Banten)

Sumber           : Kabar Madura

Most Read Articles

esis emir