Generasi Muda Harus Berkarakter Tangguh

Masa muda itu singkat waktunya. Tidak bisa diputar lagi. Jika tidak diisi dengan hal positif, kelak di masa tua bisa menyesal. Kisah Murid Paling Bahagia memotret berbagai kisah yang terjadi di masa muda. Di dominasi berlatar sekolah yang dipenuhi kisah persahabatan, perjuangan, optimisme, cinta, dan lainnya.


Galang sebagai tokoh utama dalam buku ini digambarkan sebagai sosok yang santun. Meskipun wajahnya ganteng, cerdas, kaya, baik hati, dan kuat agamanya tidak menjadikannya sombong. Cewek-cewek di sekolah nge-fans padanya. Meskipun punya materi lebih dari cukup, Galang tak mau begitu saja meminta kepada orang tuanya. Untuk memberikan kado ultah ayahnya, dia bekerja menjaga kebun jeruk milik Wak Haji. Sebulan bekerja, dia tidak sekalipun mencicipi jeruk. Sehingga saat diminta mengambil jeruk yang rasanya manis, dia pun kesulitan. Dia salah ambil. Kisah yang sama terjadi pada masa lampau, tentang seorang alim bernama Mubarok. Sekian lama bekerja pada majikannya, dia tidak bisa membedakan mana buah masam dan manis. Dia pun keliru mengambilkan buah untuk majikannya. Tidak lain, karena selama bekerja, tidak sekalipun dia mencicipi buah yang dijaganya. Sebab, dia ditugaskan untuk menjaga kebun semata. Kelak, anaknya, Abdullah bin Mubarok menjadi seorang ulama, ahli hadist, dan taat beribadah pada Allah. Ini berkat kehati-hatian kedua orangtuanya dalam menjaga kehalalan makanan.

Dua belas kisah yang disajikan dalam buku ini kental dengan tema anak-anak muda. Buku pun memuat kata-kata yang khas anak muda seperti kepo, daebaak, by the way, dan sejenisnya. Penulisnya mampur memadukan kisah kekinian dengan kisah masa lampau yang  berkorelasi. Meskipun ceritanya sudah berlalu, namun muatan-muatan karakter yang coba ditawarkan lewat kisah-kisah, menjadikan buku ini selalu relevan hingga saat ini. Meskipun, ada kesan ‘pemaksaan’ di sana. Secara umum, bahasanya renyah untuk dilahap dan dimengerti.

Denis memamerkan kemampuan gitarnya. Cewek-cewek banyak yang terpesona. Namun tidak dengan Aisyah. Denis bermaksud nembak Aisyah. Namun Aisyah menolaknya. Dia tidak mau pacaran. Akan membuat belajarnya tidak fokus. Saat Denis memaksa, datang Galang yang mencegah. Denis yakin dengan kemampuannya tidak ada yang menolak. Galang mengingatkan, tidak boleh sombong dengan kemampuan yang dilatih. Itu bukan sebuah kehebatan. Lantas Galang memperlihatkan kemampuan dalam memainkan bola basket. Itu membuat Denis sadar bahwa benar kita tidak boleh menyombongkan sesuatu yang kita lakukan berulang-ulang. Sebab siapapun bisa memiliki kehebatannya masing-masing. Kisah ini mirip dengan kisah seorang pangeran yang menyombongkan diri dengan keahlian memanangnya yang memang sangat mahir. Semua orang kagum, kecuali penjual minyak. Tentu saja sang pangeran marah. Namun dia disadarkan dengan kemampuan hebat si penjual minyak yang bisa menuangkan minyak melewati lubang koin kuno tanpa membasahi koin sedikit pun.

Buku ini tepat kiranya menjadi suplemen bacaan dalam gerakan literasi sekolah (GLS). Kisahnya erat dengan siswa. Iktikad penanaman dan penguatak karakter baik pada generasi muda. Seperti kita tahu bahwa karakter generasi muda saat ini menjadi rawan terpapar globalisasi. Namun berbagai pengaruh dari luar itu sejatinya bisa ditangkal jika karakter baik telah menjadi dasar yang kuat.

Sekolah mengadakan studi tour. Di perkemahan itu siswa diminta membuat kerajaan. Ujang yang ditunjuk menjadi raja, Galang menjadi penasihat. Namun Ujang memberikan perintah yang aneh-aneh. Saat mencari buah di sekitar perkemahan, Ujang terperosok. Kakinya luka. Dia kesal karena Galang malah mengatakan agar bersabar dan ambil hikmahnya. Lantas, Galang dipecat sebagai penasihat.

Sebagai bentuk pengabdian masyarakat, siswa mendapat tugas mengangkat beras milik warga. Raja dan penasihat setiap kerajaan yang ditugaskan untuk pekerjaan melelahkan itu. Barulah kemudian Ujang merasa beruntung karena dia mengalami kecelakaan. Sehingga tidak perlu berkeringat mengangkat beras-beras itu. Kisah ini mirip dengan kisah seorang raja yang kelingkingnya cacat saat berburu. Penasihat yang mencoba menyabarkannya malah dipecat. Suatu saat, melintas bangsa kanibal yang memakan semua penduduk di kerajaan itu, kecuali sang raja karena dianggap cacat. Pesan moralnya adalah bagaimanapun kondisi yang kita alami alangkah eloknya jika kita mampu bersabar dan mengambil pelajaran dari kejadian itu.

Aisyah sudah suudzon dengan Kyai Januar. Tadinya dia kagum dengan sang kyai. Namun saat menginap di rumah Pak Haji Hasan, Kyai tidak menunjukkan tanda-tanda orang soleh. Aisyah heran Kyai Januar makannya banyak, tidak jadi imam di mushola rumah Aisyah, tidak shalat tahajud, dan shalat Subuh tanpa wudhu dulu. Ringkasnya, tidak sesuai dengan nama besarnya. Kisah Kyai Januar yang menginap di rumah Pak Haji Hasan mirip dengan kisah Imam Syafi'i yang menginap di rumah Imam Ahmad. Peristiwa yang kebetulan ini akhirnya terasa dipaksakan. Atau, memang itu pilihan tepat agar tepat pula contohnya.

 

Judul               : Kisah Murid Paling Bahagia

Penulis             : Achi TM

Penerbit           : Emir (Penerbit dari Erlangga)

Tebal               : x + 110 halaman

Cetakan           : 2019

ISBN               : 978-602-093-571-3

Peresensi         : Supadilah (Guru di SMA AL Qudwah, Banten)

Sumber            : Radar Madura

Most Read Articles

esis emir