Mewujudkan Pendidikan Ramah Anak

Pendidikan di Indonesia dikatakan memaksa. Memaksa semua anak untuk bisa berbagai kemampuan. Diibaratkan sekolah binatang yang memaksa murid-muridnya berlari cepat, berenang, terbang, memanjat, melompat, dan lainnya.


Beberapa binatang mampu bahkan mahir dalam satu kompetensi. Pada kompetensi lari, harimau sangat unggul, namun sangat jelek dalam kompetensi berenang. Bebek mendapatkan nilai terbaik tapi bodoh dalam kompetensi terbang. Namun karena tuntutan kurikulum, mereka terus dipaksakan belajar berbagai kompetensi yang ditetapkan.

Akibatnya fatal. Bukan saja mereka tidak kunjung mahir dalam kompetensi yang tidak mereka kuasai, mereka pun menjadi lupa dengan kemampuan yang selama ini mereka kuasai. Perlahan, kemampuan lari harimau menurun. Bebek mulai kesulitan berenang. Tupai pun berkali-kali jatuh saat lompat dari pohon ke pohon.

Seperti itulah pendidikan kita. Menilai peserta didik dengan berbagai kemampuan yang bukan menjadi keahlian mereka. Mereka yang tak suka fisika harus belajar fisika. Mereka yang tak suka menggambar terpaksa belajar menggambar.

Para orangtua dan guru sebaiknya tidak perlu membanding-bandingkan anak yang satu dengan yang lain karena mereka memiliki kecerdasannya masing-masing yang unik dan tidak terbandingkan (hlm 24).

Pada awalnya belajar merupakan hak anak. Sejak bayi mereka sendiri yang belajar merangkak, berjalan, berlari, dan melakukan aktifitas lainnya.

Setelah di sekolah, semuanya berubah. Mulai ada tuntutan, peraturan, dan kewajiban yang harus mereka penuhi. Sekolah yang mulanya menyenangkan lantas menjadi sebuah keterpaksaan. Kadang orang tua pun menjadi pihak yang memaksakan. Jika anaknya tidak mau sekolah, orang tua pun naik darah. "Mau jadi apa kamu nanti?".

Masalah pendidikan tidak henti dibahas. Buku ini bisa menjadi salah satu sumbangan dalam dunia pendidikan. Ditulis oleh pakar pengalaman dalam dunia anak dan pendidikan sehingga layak menjadi panduan orang tua dan guru dalam menjalankan peran.

"Belajar adalah hak bagi setiap anak, karena itu tidak boleh ada paksaan dalam mendidik anak" (hlm 31). Orangtua perlu memberi semangat belajar dan motivasi untuk mengembangkan potensi anak. Namun, tetap mengedepankan hak-hak anak.

Mereka berhak mendapatkan pendidikan yang akan menumbuhkan karakter baik dalam dirinya (hlm 32). Sistem pendidikan kita menggaungkan pendidikan karakter. Itulah yang perlu dicontohkan untuk diteladani oleh orang tua dan guru. Keteladanan dan penanaman budi pekerti pula yang menjadi semangat yang ditanamkan tokoh pendidikan Ki Hadjar Dewantara.

Nilai mata pelajaran yang tinggi, menjadi juara lomba, dan prestasi akademik lainnya tentu tidak guna jika minus karakter dan moral. Pendidikan harus diselenggarakan agar murid-murid bisa mengembangkan potensinya, bukan untuk mencetak robot-robot atau bebek-bebek.

Pada umumnya, guru menyadari ini. Namun, tak bisa berbuat banyak. Guru dihadapkan pada tuntuan kurilulum, materi pelajaran yang terlalu berat, materi tidak sesuai perkembangan anak, dan banyaknya mata pelajaran mengecambahkan persoalan psikologis anak.

Sekolah menjadi alih fungsi menjadi pabrik yang mencetak anak-anak cerdas menjadi robot-robot pekerja, potensi unggul dan kreativitasnya telah dibuang dan dilupakan.

Kembalikan belajar sebagai hak anak. Di sekolah, guru dapat menghadirkan unsur-unsur bermain: siswa terlibat aktif, membangun sendiri pengetahuan, murid sebagai pusat pembelajaran, memberi ruang untuk bertanya, mengemukakan pendapat, dan berkomunikasi. Guru merancang strategi pembelajaran yang menyenangkan dengan memasukkan unsur-unsur bermain (hlm 46).

Sekolah yang ramah anak adalah sekolah yang menegakkan prinsip-prinsip perlindungan anak (hlm 77). Sekolah memberikan kesempatan anak untuk mengembangkan potensinya, memberikan hak-hak dasar anak, memiliki sistem pencegahan tindak kekerasan.

Mewujudkan sekolah ramah anak menjadi sebuah keharusan. Namun juga jangan sekadar label saja. Bukan pula sebagai jargon pertanda kelatahan untuk menaikkan nilai jual. Melainkan tujuan mulia yang benar-benar diupayakan dan diwujudkan.

Judul               : Melindungi dan Mendidik Anak dengan Cinta

Penulis             : Erlinda dan Seto Mulyadi

Penerbit           : Emir

Tebal               : xviii+205 halaman

Cetakan           : 2019

ISBN               : 978-602-434-63626

Peresensi         : Supadilah (Guru di SMA Al Qudwah, Banten)

Sumber            : Radar Bekasi

Most Read Articles

esis emir