Mengintip Perpustakaan Tertua di Dunia: Menjaga Warisan Literasi Sejak Abad ke-7 SM

Mengintip Perpustakaan Tertua di Dunia: Menjaga Warisan Literasi Sejak Abad ke-7 SM

Dipublikasikan pada: 17 May 2026

Sumber: Envato

Peringatan Hari Buku Nasional setiap 17 Mei tak lepas dari sejarah panjang literasi Indonesia. Tanggal ini dipilih untuk mengenang berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada 17 Mei 1980 silam. 

Namun, jauh sebelum perpustakaan modern hadir, manusia sudah punya cara untuk menyimpan pengetahuan. Dari sinilah kisah sejarah literasi bisa kamu lihat sebagai perjalanan panjang peradaban.

Salah satu jejak paling menarik dari perjalanan itu dapat ditemukan di perpustakaan kuno yang berdiri sejak abad ke-7 SM, yaitu Perpustakaan Ashurbanipal.

Sumber: Envato

Mengenal Perpustakaan Ashurbanipal

 

Sekitar 2.600 tahun lalu, ketika buku cetak, kertas, apalagi perpustakaan digital belum dikenal, telah berdiri sebuah perpustakaan besar milik Raja Ashurbanipal.

Perpustakaan ini berada di Niniwe, ibu kota Kerajaan Asyur kuno yang kini berada di sekitar Irak. Saat ini, perpustakaan tersebut dikenal sebagai Library of Ashurbanipal atau Perpustakaan Ashurbanipal.

Raja Ashurbanipal dikenal sebagai penguasa yang mengumpulkan banyak teks penting dari Mesopotamia. Koleksi itu menjadi salah satu bukti bahwa masyarakat kuno sudah memiliki perhatian besar terhadap ilmu, catatan sejarah, dan pengetahuan.

Buku Sebelum Kertas: Tablet Tanah Liat dan Aksara Kuneiform

Menariknya, koleksi perpustakaan Ashurbanipal saat itu bukan berupa buku bersampul seperti yang kita kenal sekarang. Isinya adalah ribuan tablet tanah liat dan fragmen yang ditulis dengan aksara kuneiform.

Cara menulisnya pun unik. Orang-orang pada masa itu menekan alat kecil berbentuk batang ke tanah liat yang masih lunak. Setelah kering, tablet tersebut menjadi media penyimpan informasi yang kuat dan bisa bertahan sangat lama.

Koleksinya berisi banyak hal, mulai dari catatan administrasi, surat, teks keagamaan, ilmu pengobatan, astronomi, hingga karya sastra. Salah satu yang paling terkenal adalah Epic of Gilgamesh, kisah kuno dari Mesopotamia yang masih bisa dibaca hingga sekarang.

Mengapa Perpustakaan Kuno Ini Penting?

Perpustakaan Ashurbanipal menunjukkan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis. Lebih dari itu, literasi berkaitan dengan cara manusia menyimpan pengalaman, menjaga ingatan, dan mewariskan ilmu kepada generasi berikutnya.

Dari perpustakaan kuno ini, kamu bisa melihat bahwa setiap peradaban membutuhkan ruang untuk menyimpan pengetahuan. Tanpa catatan, banyak kisah, ilmu, dan pemikiran masa lalu mungkin tidak pernah sampai kepada kita hari ini.

Di tengah derasnya informasi digital, buku tetap menjadi ruang belajar yang penting karena membantu kita memahami sesuatu dengan lebih runtut, mendalam, dan terarah. 

Dari tablet tanah liat sampai buku modern, perjalanan sejarah literasi membuktikan bahwa membaca bukan hanya kegiatan belajar, tetapi juga cara manusia merawat pengetahuan dan peradaban.

 

Referensi

  1. British Museum — penjelasan tentang Perpustakaan Ashurbanipal dan koleksi tablet tanah liat beraksara kuneiform. https://www.britishmuseum.org/research/projects/what-was-ashurbanipals-library
  2. Britannica — profil Ashurbanipal dan perpustakaan sistematis yang ia bangun di Niniwe. https://www.britannica.com/biography/Ashurbanipal
  3. Britannica — keterangan tentang Niniwe dan koleksi tablet dalam Perpustakaan Ashurbanipal. https://www.britannica.com/place/Nineveh-ancient-city-Iraq
  4. Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kutai Kartanegara — Hari Perpustakaan Nasional dan Hari Buku Nasional 17 Mei. https://diarpus.kukarkab.go.id/2025/05/17/hari-perpustakaan-nasional-ri-17-mei-1980-17-mei-2025/

 

Tautan disalin
https://www.erlangga.co.id/berita-event/news/sejarah-literasi-perpustakaan-tertua-di-dunia

Rekomendasi Berita Lainnya