Dipublikasikan pada: 15 Jan 2026

Oleh Prof. Dr. H. Ibnu Burdah, S.Ag. M.A.
(Guru Besar dalam Bidang Ilmu Kajian Dunia Arab dan Islam Kontemporer Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta)
Sejarah mencatat, metode belajar baca huruf Al-Qur’an di tanah air selama beberapa dekade, atau bahkan lebih satu abad sebelum tahun 1970-an “didominasi” oleh metode turutan (al-Qa’idah al-Baghdadiyah). Materi dalam metode ini dimulai dari pengenalan nama-nama huruf hijaiah, harakat, hingga bacaan surat Juz ‘Amma (juz 30 Al-Qur’an).
Pengalaman belajar penulis sewaktu kecil juga menggunakan metode belajar itu. Hampir dapat dipastikan, metode ini digunakan oleh sebagian besar kaum muslimin di tanah air sebelum tahun 1970 atau 1980-an. Di banyak daerah, terutama di luar Jawa Tengah, dominasi metode al-Baghaddi bahkan berlangsung lebih panjang hingga tahun 1990-an.
Ciri metode al-Baghaddi adalah penekanan yang kuat terhadap ilmu atau pengetahuan, bukan pada keterampilan (maharah/skill) membaca Al-Qur’an. Oleh karena itu, pelajaran paling awal dari metode al-Baghaddi adalah pengenalan nama-nama huruf Arab (hijaiah), bukan dengan cara praktik membaca huruf itu. Materi selanjutnya juga demikian, nama-nama harakat juga dikenalkan secara rinci bergandengan dengan huruf itu (mengeja).
Ketika anak atau pembelajar membaca kata-kata yang ada dalam Juz ‘Amma al-Baghaddi, mereka akan mengeja nama-nama setiap huruf beserta nama harakatnya. Barulah kemudian mereka mempelajari bagaimana hasil bacaannya. Sekali lagi, ciri paling khas dari metode al-Baghaddi adalah pendekatan yang kuat terhadap obyek sebagai pengetahuan, bukan sebagai kemampuan. Implikasinya tentu mudah ditebak. Anak-anak hasil “didikan” metode al-Baghaddi mengetahui dan bisa menyebutkan nama-nama huruf berikut nama-nama harakat yang sedang dibaca dengan baik. Akan tetapi, mereka memerlukan waktu yang lama untuk mencapai kemampuan membaca Al-Qur’an. Singkatnya, mereka banyak mengetahui tentang huruf-huruf Al-Qur’an, tetapi sedikit kemampuan untuk dapat membacanya. Itu pun memerlukan masa belajar yang cukup lama. Tak sedikit dari mereka yang akhirnya berhenti belajar dan akhirnya tak mampu membaca Al-Qur’an sepanjang hidupnya.
Namun begitu, harus diakui, jasa metode al-Baghaddi bagi perjuangan melek baca Al-Qur’an di tanah air begitu besar. Betapa pun berbagai kelemahan yang dimilikinya, metode al-Baghaddi tercatat dalam sejarah telah melahirkan para ulama besar, kiai, tokoh agama, muallif kitab, ahli tafsir, dan penghafal Al-Qur’an dalam jumlah besar dan dalam waktu yang lama.
Popularitas metode al-Baghdadi tak terbatas di Indonesia. Di luar Indonesia, metode ini juga sangat dominan, berdampingan dengan penggunaan metode Makkiyah.
Revolusi Qira’ati
“Dominasi” panjang metode al-Baghdadi mencerminkan suatu keprihatinan yang dalam. Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia tak kunjung melahirkan metode-metode “besar” yang dapat menjadi alternatif, bahkan menemukan pengganti metode itu. Tiga puluh tahun paska kemerdekaan RI, kaum muslimin Indonesia belum mampu melahirkan metode baru yang revolusioner dalam mengenalkan bacaan Al-Qur’an sampai kemudian lahirlah metode Qira’ati.
Lahirnya metode Qira’ati antara tahun 1960 smapai 1970-an di Jawa Tengah menandai sejarah baru dalam perjalanan metode belajar baca Al-Qur’an di tanah air. Metode ini menawarkan paradigma baru yang begitu tegas bahwa membaca Al-Qur’an itu adalah maharah, skill, atau keterampilan, bukan wawasan atau pengetahuan semata. Kedua hal itu harus dibedakan.
Oleh karena itu, metode Qira’ati dalam praktiknya tidak memperkenalkan nama-nama huruf hijaiah berikut harakatnya sejak awal sebagaimana metode al-Baghdadi. Dalam metode Qira’ati, anak-anak langsung diajari cara membaca huruf berikut harakat tanpa mengejanya. Implikasinya, benar bahwa padatahap awal, anak kadang kurang tahu nama-nama huruf hijaiah dan nama harakat. Akan tetapi, pada sisi lain, mereka sangat cepat dan tangkas dalam membacanya. Hal ini tentu sangat menggembirakan. Sebab, tujuan pembelajaran membaca Al-Qur’an ialah agar anak mampu membaca Al-Qur’an, bukan membuat anak mampu menghafal nama-nama huruf, harakat, atau mengejanya.
Pencetus metode Qira’ati ialah K.H. Dachlan Salim Zarkasyi dari Semarang. Ia memiliki komitmen begitu kuat untuk menjaga ketepatan dan kefasihan dalam pembelajaran membaca Al-Qur’an di tanah air. Melalui tangan dinginnya, metode Qira’ati melahirkan tradisi dan sistem pembelajaran yang begitu ketat, baik dari sisi guru, institusi, maupun disiplin dan tatakrama (adab) santri dalam belajar.
Pada titik itulah, metode Qira’ati yang semula menyebar sangat lambat akibat ketatnya “disiplin” dalam pengajaran Al-Quran, itu lambat laun tersebar. Cabang-cabang Qira’ati menjalar di berbagai wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya, bahkan kemudian di kenal luas di tanah air dan mancanegara.
Namun, persoalan krusial muncul dan sempat memengaruhi penyebaran metode Qira’ati. Banyak dari para wakil di berbagai daerah yang mengaku telah melahirkan metode baru. Mereka menulis ulang metode Qira’ati tersebut, mencetak sendiri buku-buku itu, lalu disebarkan di kalangan mereka dan masyarakat umum dengan nama selain Qira’ati.
Ketatnya sistem pengajaran dan organisasi, serta mungkin pula aspek-aspek lain di luar itu, misalnya motif ekonomi, sering kali menjadi alasan banyak orang yang “memutuskan diri” dari ikatan organisasi Qira’ati pusat, lalu membangun sistem tersendiri. Faktanya, metode-metode lokal yang jumlahnya sangat banyak kecenderungannya merupakan susunan ulang dari Qira’ati dengan nama yang berbeda.
Pada umumnya, metode-metode “lokal” dimaksud lebih ringkas daripada metode Qira’ati. Menurut penulis, hal ini justru yang menjadi kekeliruan paling fatal dari para “penerjemah” ulang metode Qira’ati. Sebab, roh dasar metode Qira’ati adalah latihan demi latihan secara berulang (tikrar).
Kita mencacat, jasa dan pengaruh metode Qira’ati bagi pembelajaran membaca Al-Quran di tanah air dalam tiga atau empat dekade begitu kuatnya. Metode Qira’ati adalah pelopor. Sebagian besar metode-metode lain yang lahir sesudahnya, diakui maupun tidak, memiliki kesamaan prinsip, bahkan kemiripan dalam hal detail dengannya, Oleh karena itu, penulis harus memberikan tribute yang besar kepada gagasan besar dari penulis metode Qira’ati dan para pemimpin organisasi pembelajaran ini dalam kepeloporannya melahirkan metode baru membaca Al-Qur’an melalui pendekatan skill.
Penghargaan yang tinggi juga patut kita berikan atas upaya keras para tokoh yang melahirkan metode Qira’ati dalam menjaga kualitas bacaan Al-Qur’an di tanah air. Penulis tak ragu-ragu untuk menyebut tiga dekade terakhir dari sejarah pembelajaran baca Al-Quran di tanah air sebagai era Qira’ati, yang menggantikan era al-Baghdadi yang sebelumnya punya sejarah panjang.
Booming Iqra’
Setelah kelahiran metode Qira’ati, muncul metode baru yang kemudian menjadi primadona, popular, dan sangat dominan. Namanya, metode Iqra’. Metode ini disusun oleh K.H. Asad Humam yarhamuhullah dari Kota Gede, Yogyakarta. Dari sisi materi dan pendekatan, baik Qira’ati dan Iqra’ dapat dikatakan sama. Akan tetapi, metode Iqra’ lebih sederhana dan tak mensyaratkan hal-hal detail dalam sistem pembelajaran yang bagi kalangan awam dipandang tidak mudah.
Ketatnya aturan dalam metode Qira’ati, membuat metode Iqra’ yang ditulis sekitar 10 tahun kemudian mencuri perhatian khalayak di tanah air. Popularitas metode ini terutama di luar Provinsi Jawa Tengah menjalar sangat cepat. Metode Iqra’ lalu menyalip metode Qira’ati dalam hal popularitas. Inilah jasa yang sangat besar dari penyusun dan penyebarnya yang menciptakan gerakan masif dalam memberantas buta huruf Al-Qur’an di tanah air.
Hasil bacaan Al-Qur’an antara santri didik metode al-Baghdadi dan metode Iqra’ pada masa popularitasnya sangat berbeda. Kita menyaksikan gejala baru terkait kemampuan membaca Al-Qur’an di tanah air. Setelah kehadiran metode Iqra’, jumlah anak-anak perkotaan yang mampu membaca Al-Qur’an menjadi sangat besar, berlipat-lipat dari masa sebelumnya. Gairah terhadap Al-Qur’an dan kegiatan keislaman juga menguat dengan menjamurnya Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ, pada awalnya TPA) di berbagai pelosok negeri.
Penulis merasa tak perlu membahas hal-hal sensitif mengenai ada atau tidaknya hubungan material dan metodik antara metode Iqra’ dan Qira’ati, termasuk hubungan personal kedua pengarangnya. Yang pasti, penulis menegaskan keduanya memiliki jasa yang sama-sama besar dalam pembelajaran baca Al-Qur’an di tanah air. Penulis begitu terkesan saat menghadiri pemakanan K.H. As’ad Humam. Beliau mengalami gerah fisik yang lama, tetapi justru beliau mengukir jasa besar buat umat yang bermanfaat hingga saat ini.
“Kematangan” Metode Yanbu’a
Metode Yanbu’a dikenal sebagai metode membaca sekaligus menulis Al-Qur’an. Gagasan menyatukan kemampuan membaca sekaligus menulis dalam skala besar merupakan gagasan baru. Meskipun metode ini datang belakangan, sekitar tahun 2004-an, metode ini mendapatkan penghormatan yang besar dari siapa saja. Hal ini disebabkan kualitas dan “kelas” yang dimiliki penyusun metode ini.
Metode Yanbu’a disusun (sesuai yang tercantum dalam buku) oleh K.H. Mumammad Ulinnuha Arwani, K.H. Ulil Albab Arwani, K.H. M. Manshur Maskan, dkk., meskipun bisa saja nama-nama besar itu sebenarnya hanya “dipinjam”. Kedua nama pertama ialah putra Kiai Arwani, seorang “otoritas” dan mentor para huffaz Al-Quran di tanah air. Keduanya adalah pengasuh pesantren Yanbu’a yang telah melahirkan puluhan ribu santri huffaz yang tersebar di berbagai wilayah di negeri ini. Banyak sekali pengasuh pesantren Al-Qur’an di tanah air yang merupakan murid dari Pesantren Yanbu’a, atau cucu murid, bahkan cicit murid Pesantren Yanbu’a.
Dilihat dari sisi isi, metode Yanbu’a jelas tidak berbeda jauh dari metode Qira’ati, terutama dalam aspek membaca Al-Qur’an. Kekuatan metode Yanbu’a terletak pada detail pengetahuan dan informasi yang disampaikan terkait praktik tajwid, termasuk materi “garib”, yakni materi-materi terkait kasus “langka” dalam bacaan Al-Qur’an. Buku metode Yanbu’a sepertinya sesuai dengan disiplin tinggi yang ditanamkan terhadap para santri Pesantren Yanbu’a. Dari sisi materi atau isi, buku metode Yanbu’a begitu matang.
Namun, harus pula diakui, materi yang diberikan dalam buku tersebut sangat padat jika dibandingkan dengan metode lain. Implikasinya, porsi latihannya menjadi sangat berkurang sehingga tak mudah bagi kalangan awam, apalagi bagi anak-anak. Menurut hemat penulis, bagi anak didik pada umumnya, latihan yang seharusnya perlu diperbanyak, bukan materi yang dibuat padat.
Kebaruan Buku Tartila
Sejarah metode baca huruf Al-Qur’an sekitar empat atau lima dekade terakhir ini tidak mengalami perkembangan berarti. Buku-buku metode membaca Al-Qur’an yang baru cenderung statis. Semuanya sudah searah dengan metode Qira’ati, kecuali metode “Mutqin” yang mengembalikan prinsip lama dengan memadukan ulum (ilmu) dulu baru maharah (skill) seperti metode al-Baghdadi, kendati dengan basis yang berbeda. Metode Mutqin berbasis kuat pada uraian dan pembahasan ilmu tajwid.
Dengan alasan itu pula, penyusun buku Tartila berupaya mendorong “metode baru” yang bertujuan ke arah baru, yakni mendorong keterampilan membaca huruf Al-Qur’an sekaligus membekali anak dengan kemampuan paling dasar mempelajari bahasa Arab. Hal ini, meskipun sangat sederhana merupakan unsur kebaruan yang penting dalam khazanah pembelajaran membaca Al-Qur’an.
Buku Tartila yang diterbitkan oleh Emir (Erlangga Group) memberikan alternatif dan jangkauan baru dalam perjalanan panjang sejarah metode baca huruf Al-Qur’an di tanah air. Penyusunnya bertekad untuk mengembalikan semangat pokok metode maharah (skill) yang sebenarnya, yakni memudahkan anak dalam belajar. Caranya, antara lain dengan memperbanyak latihan yang bertahap (gradual) dalam peningkatan level sehingga peningkatan skill membaca berjalan secara mulus (smooth). Latihan yang diperbanyak dan penambahan materi yang sangat gradual itu membuat buku Tartila menjadi buku metode baca huruf Al-Qur’an yang paling ramah untuk anak.
Buku Tartila juga menempuh cara lain untuk mempermudah dan memperkuat skill baca anak dengan memberikan porsi selingan menulis dana tau menggambar huruf hijaiah. Pelajaran menulis dan menggambar yang merupakan porsi selingan santai dalam setiap bagian buku diarahkan untuk memperkuat kemahiran anak membaca huruf Al-Qur’an yang baru saja dipelajarinya, sekaligus diberikan materi nyicil pembelajaran bahasa Arab sejak dini.
Kekuatan lain dari buku Tartila ialah hasil cetakan yang lebih menarik dan warna-warni, halaman yang lebih luas, huruf yang lebih besar, dan terdapat panduan untuk anak maupun orang tua/guru pendamping pada setiap bagiannya, baik itu terkait panduan makhraj, cara mengajar dan evaluasinya.
Semoga lahirnya buku Tartila membawa hasil nyata, yakni kemudahan dan kemantapan bagi anak dalam proses pembelajaran membaca huruf Al-Qur’an, yang dilengkapi dengan belajar menulis dan pengenalan bahasa Arab secara sederhana. Amin, ya Mujibas-sailin.