Di Balik Panggung Voice Fest: Gugup, Doa, dan Keberanian Mahasiswa

Di Balik Panggung Voice Fest: Gugup, Doa, dan Keberanian Mahasiswa

Dipublikasikan pada: 12 Feb 2026

Gemerlap panggung The Voice Fest at Braga 2026 menyimpan cerita lain yang tak selalu terlihat penonton. Di balik sorotan lampu dan tepuk tangan, para mahasiswa peserta membawa rasa gugup, harapan, dan perjuangan panjang yang menguji ketangguhan mental mereka. Bagi sebagian besar peserta, ajang ini bukan sekadar kompetisi, melainkan ruang pembuktian diri dan perjalanan emosional yang berkesan.

Perjalanan PSM Swara Wadhana dari Universitas Negeri Yogyakarta menggambarkan betapa kompetisi ini menjadi rollercoaster emosi bagi banyak peserta. Menjelang grand final, tim yang beranggotakan 29 penyanyi dan seorang konduktor ini menjalani latihan intensif dengan persiapan materi yang relatif singkat—sekitar satu bulan menghadapi lagu-lagu baru yang harus dikuasai untuk tampil maksimal.

Ketua tim, Renata Sari Tampubolon, menggambarkan suasana kompetisi sebagai pengalaman yang sangat menegangkan namun sarat kebersamaan dan dukungan. “Persaingan ini diikuti banyak universitas yang sangat top-top banget ya… Jadi saat mendengar pengumuman itu, kami merasa sangat bangga, terharu, dan bersyukur,” ungkap Renata sambil mengenang momen ketika nama timnya diumumkan sebagai juara pertama Choir Competition.

 

Renata juga menekankan bahwa selain ketekunan dalam latihan, kekuatan spiritualitas dan dukungan tim serta keluarga menjadi faktor penting yang menjaga fokus mereka sepanjang proses kompetisi. Bahkan ketika tampil di panggung, rasa gugup tetap hadir namun mampu diatasi berkat kebersamaan yang kuat dalam doa dan semangat kolektif.

Seorang anggota tim lainnya, Giovanni Primero, menyebut adrenalin dan deg-degan sebagai tantangan wajar yang harus dihadapi setiap penyanyi di atas panggung. Menurutnya, pengalaman tampil di The Voice Fest at Braga menjadi pembelajaran berharga yang memperkuat kesiapan mental dan emosionalnya sebagai seorang performer.

Nuansa serupa juga dirasakan Angela Merici Retna, mahasiswa Universitas Indonesia yang meraih juara pertama Nederlandse Toespraakwedstrijd. Pada awalnya, Angela mengaku sempat ragu dan kurang percaya diri. Namun, dukungan dari teman, keluarga, dan orang-orang terdekat memberinya keberanian untuk terus melangkah. Ketertarikannya pada bahasa Belanda yang bermula dari rasa penasaran akhirnya mengantarkannya ke panggung kompetisi nasional.

“The Voice Fest tidak hanya menjadi wadah untuk menunjukkan kemampuan, tetapi juga ruang belajar, bertumbuh, dan saling menyemangati antar peserta,” ungkap Angela.

Bagi para peserta, momen di belakang panggung sering kali menjadi bagian paling emosional. Saling menyemangati sebelum tampil, menahan napas saat pengumuman pemenang, hingga berbagi pelukan setelah kompetisi berakhir, menjadi pengalaman yang membekas. Perwakilan PSM Swara Wadhana, Carissa Aeryn Christer, menyampaikan rasa syukur atas kesempatan berkompetisi dan berharap Voice Fest terus menjadi ruang prestasi yang sehat bagi mahasiswa.

“Luar biasa sekali acara ini. Terima kasih sudah memberikan kesempatan kepada kami. Semoga The Voice Fest terus menjadi lingkungan kompetisi yang positif dan bergengsi,” ujarnya.

Lewat kisah-kisah di balik panggung ini, The Voice Fest at Braga membuktikan bahwa kemenangan bukan satu-satunya tujuan. Proses latihan, keberanian untuk tampil, serta kepercayaan diri yang tumbuh justru menjadi pencapaian utama. Dari gugup hingga bangga, dari ragu hingga yakin, Voice Fest menjadi ruang di mana suara mahasiswa tidak hanya terdengar, tetapi juga menemukan maknanya.

 

Tautan disalin
https://www.erlangga.co.id/berita-event/news/di-balik-panggung-voice-fest-gugup-doa-dan-keberanian-mahasiswa

Rekomendasi Berita Lainnya